oleh

Dinkes Luwu Utara Gelar Monev Posbindu Penyakit Tidak Menular

-News-36 views

LUTRA,SUARABISA.com | Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara menggelar Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Posbindu Penyakit Tidak Menular Tahun 2021.

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Posbindu Penyakit tidak Menular, adalah kegiatan Bidang P2P melalui Pengelola Seksi PTM Harmiyanti SKM. Dan digelar di Aula Hotel Bukit Indah, Jalan Simpurusiang, Kelurahan Baliase, Kecamatan Masamba. Selasa (01/06/2021). Serta dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan, drg. Marhani Katma.

Turut hadir Kepala Bidang P2P I Komang Krisna SKM, dan dihadiri peserta, Pengelola PTM Puskesmas, Kader Posbindu, dan sejumlah Kepala Desa.

Kepala Dinas Kesehatan drg. Marhani Katma dalam sambutannya, mengungkapkan, masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi saat ini adalah makin
meningkatnya kasus penyakit tidak menular. Kata dia, Dalam data Riskesdas 2018,
prevalensi PTM mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas
2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus,
dan hipertensi Prevalensi kanker.

“Dimana, naik dari 1.4% (Riskesdas 2013) menjadi 1,8%. Lalu, prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10.9%, dan penyakit
ginjal kronik naik dari 2% menjadi 3,8%. Berdasarkan pemeriksaan gula
darah, diabetes melitus naik dari 6.9% menjadi 8.5%; dan hasil
pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25.8% menjadi 34.1%”.Kata Marhani dihadapan peserta, saat membuka kegiatan.

Marhani mengatakan, Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta konsumsi buah dan sayur. Untuk itu menurutnya, Tingginya permasalahan PTM di Indonesia memerlukan upaya pengendalian yang memadai dan komprehensif melalui promosi, deteksi dini, pengobatan, dan rehabilitasi. Upaya pengendalian PTM dibangun berdasarkan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat yang
peduli terhadap ancaman PTM melalui Posbindu.

“Posbindu PTM dapat dilaksanakan terintegrasi dengan upaya
kesehatan bersumber masyarakat yang sudah ada, di tempat kerja atau di
klinik perusahaan, di lembaga pendidikan, tempat lain dimana masyarakat
dalam jumlah tertentu berkumpul beraktivitas secara rutin, misalnya di
mesjid, gereja, klub olahraga, pertemuan organisasi politik maupun
kemasyarakatan”. Jelas Marhani. Menurut dia, Posbindu tidak dapat terlaksana tanpa peran serta masyarakat, oleh sebab
itu diperlukan kapasitas kader
dalam meningkatkan peran serta masyarakat di posbindu.

“Hingga saat ini, di Kab. Luwu Utara telah mempunyai 139 posbindu (80,3%), dimana 139 posbindu, berada di 139 desa. Kegiatan posbindu merupakan kegiatan skrining faktor risiko penyakit tidak menular, yang dimana merupakan salah satu Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu skrining usia produktif usia 15-59 tahun yang dilayani
sesuai standar”. Jelas Marhani.

(*)

Komentar

Berita Lainnya